Senin, 21 September 2009

Terlihat) Tanda-Tanda Abad (Revolusi) Informasi Dalam Konteks Globalisasi

Video and computerised games in the home. Computers in the office. I suppose there will be more and more of this sort of thing. I don’t like it much. As the machine becomes more advanced and important, so does the human being become diminished. New technology will increase the gap between generations and will tend to ‘hermitise’ individuals and small groups, increasing the differences between ‘haves’ and ‘have nots’.
(Salah satu ungkapan di media massa ‘the Britain’s Mass-Observation Archive, University of Sussex’ dalam topik ‘work’ pada tahun 1983).

From an industrial society we have transformed into an information society … the information society has arrived.
(Bose, 1986: 92).


Dua ungkapan di atas menandakan sebuah penjajakan baru mengenai pemaknaan sosial dalam aspek kontemporer. Manusia bergerak secara dinamis dan selalu mengarah pada titik tertentu. Titik tertentu itulah yang kemudian menjadi perbincangan hangat karena bukanlah suatu titik yang obyektif bagi semua kalangan umat manusia. Titik perbincangan hangat yang akan diangkat kali ini adalah perkara Silicon Chip atau sejenis temuan teknologi terbaru yang kemudian membuka keran-keran kemajuan teknologi informasi. Temuan Silicon Chip itu kemudian dianggap oleh sebagian pengamat sebagai pemicu pergerakan roda revolusi terbaru, yaitu revolusi informasi. Melihat fenomena tersebut, penulis akan mengangkat beberapa hal, seperti: sejauh mana revolusi informasi menimbulkan gejala baru dalam mode ekonomi? Pertanyaan tersebut akan mengarahkan tulisan ini menuju pada legitimasi revolusi informasi yang telah diterima sebagai bentuk baru dalam globalisasi ekonomi. Tulisan ini juga akan dipadukan dengan pendapat sejumlah pengamat yang kritis akan keberadaan revolusi informasi yang berimplikasi pada keberadaan masyarakat informasi.

***
Pergolakan hubungan internasional memang tidak terlepas dari peran serta ekonomi di dalamnya. Sebagai salah satu kajian dalam Hubungan Internasional (HI), ekonomi masuk dalam kajian Ekonomi Politik Internasional. Ekonomi juga menjadi faktor penting dalam melihat konsep dan fenomena globalisasi. Di dalam retorika, ekonomi selalu dilekatkan kepada globalisasi oleh sebagian pengamat. Atau dengan kata lain, istilah globalisasi ekonomi menjadi barang wajib untuk dikaji oleh para pengamat sosial diantaranya adalah para penstudi HI. Penulis disini mencatat setidaknya ada tiga tahap yang kemudian menandakan bahwa globalisasi ekonomi itu selalu bergerak dan berproses hingga tidak diketahui waktu berhentinya.

Tahap globalisasi ekonomi pertama adalah tahap agrikultural. Tahap ini muncul di era kuno dimana faktor mesin modern tidak masuk ke dalamnya. Secara historis, Economides & Wilson (2001) memaparkan bahwa globalisasi ekonomi pertama bisa dilacak dari keberadaan jaman perang salib dimana kerajaan / empirium kristen ingin menyebarkan pengaruhnya serta melakukan agenda penaklukkan wilayah di seluruh dataran Eropa, Asia, dan Afrika, namun terhadang oleh kerajaan / empirium Islam. Di era tersebut, kerajaan / empirium romawi juga turut serta dalam penaklukkan sejumlah wilayah di dunia. Apabila diteliti lebih dalam lagi bahwa ternyata aksi penaklukkan sejumlah wilayah tersebut tidak hanya dilakukan oleh beberapa kerajaan di peradaban Eropa dan Timur Tengah, namun di belahan dunia lainnya, seperti di Asia Timur terdapat peradaban maju (China & Mongolia) yang juga melakukan agenda penyebaran pengaruh dan penaklukkan wilayah. Faktor utama yang melandasi penaklukkan wilayah tersebut adalah keinginan untuk meluaskan daerah kekuasaan. Makna yang kemudian muncul dari faktor utama tersebut bahwa manusia memiliki hasrat untuk meluaskan wilayah mereka. Perluasan wilayah berarti perluasan tanah jajahan. Secara logis, ketika manusia ingin meluaskan faktor tanah jajahannya hingga harus mencaplok wilayah manusia yang lain, maka bisa dikatakan bahwa mereka melakukan salah satu kepentingan strategis. Salah satu kepentingan strategis itu adalah mendapatkan manfaat ekonomi dari tanah jajahan tersebut.
Dari situlah kemudian, tahap agrikultural muncul pada tahap globalisasi ekonomi pertama. Rasionalisasinya, proses penaklukkan beberapa wilayah di dunia bisa diklasifikasikan sebagai bentuk globalisasi mini dan pemanfaatan tanah jajahan untuk kemakmuran kerajaannya yang merupakan bentuk agenda ekonomi. Pelaku dalam kegiatan pemanfaatan tanah jajahan tersebut tentu saja adalah kelas pekerja / petani yang dibayar oleh tuan tanah untuk menggarap lahan yang tersedia. Modal utama yang dimiliki oleh tuan tanah tersebut adalah tanah itu sendiri. Tanah menjadi aset komoditas yang mewah pada kala itu. Sehingga jelas bahwa sistem agrikultural (faktor yang berorientasi pada aspek tanah jajahan yang dimanfaatkan secara ekonomi pula) menjadi pemicu geliat globalisasi ekonomi utama yang timbul dari kegiatan pelebaran pengaruh dan kekuasaan oleh kerajaan-kerajaan pada masa sebelum mesin modern ditemukan. Manusia kemudian berlomba-lomba untuk memperluas kepemilikan tanahnya hingga harus mencaplok daerah di luar batas teritori kerajaannya demi menguasai roda ekonomi terbaik pada kala itu (agrikultural). Sebagai tambahan, pemicu paling mendasar pada kala itu adalah penemuan teknologi pertanian sederhana dan pemanfaatan hewan ternak yang semula liar dan tidak jinak, sekaligus kita juga bisa mengklasifikasikannya sebagai bentuk revolusi pertanian / agrikultural yang menandakan perubahan pola hidup dan ekonomi dari nomaden ke menetap.

***

Tahap globalisasi ekonomi kedua adalah tahap industrialisasi. Pada tahap sebelumnya, manusia masih sangat mengandalkan pola-pola ekonomi tradisional, seperti pertanian, peternakan, berburu hewan di hutan atau mencari ikan yang hidup alami di sungai atau perairan dalam seperti laut. Bisa dibayangkan pada kala itu, manusia masih belum menemukan bentuk teknologi mesin yang bisa meringankan beban pekerjaan mereka. Otomatis, pola berpikir mereka masih sangat tradisional, bahkan mereka dikategorikan sebagai manusia yang hidup pada era Dark Age atau jaman kegelapan oleh sebagian pengamat. Namun, dunia telah berubah semenjak pria dewasa bernama James Watt menciptakan teknologi mesin uap yang kemudian membawa dunia pada revolusi teknologi kedua setelah pertanian, yaitu revolusi industri pada tahun 1765. Hal itu menandakan perubahan era, yaitu dari era Dark Age menuju era Scottish Enlightment.
Telah dipaparkan sebelumnya di atas bahwa revolusi teknologi tertentu akan membawa pada revolusi ekonomi tertentu pula. Revolusi teknologi pertanian sederhana telah membawa manusia pada revolusi ekonomi agrikultural. Mode agrikultural tersebut menjadi roda ekonomi utama pada era sebelum Dark Age. Setelah itu, terdapat revolusi industri yang kemudian membawa manusia pada revolusi ekonomi selanjutnya. Mark Skousen (2007) mencatat bahwa Dr. Adam Smith melalui buku monumentalnya yaitu An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations telah mendeklarasikan revolusi ekonomi kedua, yaitu ekonomi liberal / kapitalisme. Berbeda halnya dengan revolusi agrikultural yang menitik beratkan pada tanah sebagai aset utama dan paling berharga. Dalam revolusi industri, kepemilikan alat produksi kemudian menggeser arti penting tanah sebagai aset yang paling berharga. Di dalam revolusi industri ini, manusia kemudian berfokus pada pengembangan produk-produk manufaktur pada skala masif. Beberapa term yang kemudian muncul sebagai riak dalam revolusi industri tersebut adalah mass production dan under consumption. Akibatnya produsen sulit menjual di daerahnya sendiri karena pasar sudah terlalu jenuh. Oleh karena itu ia menjualnya ke beberapa belahan dunia lainnya, yang kemudian menandakan bentuk globalisasi ekonomi yang kedua (perdagangan lintas negara).

Karl Marx secara mendasar menilai bahwa revolusi ekonomi liberal tersebut sulit membawa manusia pada cita-cita yang baik pada revolusi industri. Revolusi industri yang semula ditujukan demi kemajuan umat manusia, malah hanya menurunkan atau melanggengkan model lama, yaitu eksploitasi sumber daya manusia. Pada era revolusi agrikultural, buruh tani yang tidak mempunyai tanah terpaksa tereksploitasi tenaganya oleh tuan tanah. Hal serupa diaplikasikan di dalam revolusi industri. Buruh industri kemudian tetap tereksploitasi oleh pemilik alat produksi. Pemilik alat produksi sajalah yang kemudian merasakan kemajuan luar biasa dalam hidupnya, tetapi tidak berlaku bagi buruhnya. Kemudian Marx menilai bahwa sistem ekonomi liberal hanya akan membawa pada kemunduran yang akan mematikan sistemnya sendiri. Lalu muncullah J.M. Keynes yang bisa menyelamatkan muka ekonomi liberal dengan sistem fiskal dan moneter yang dimiliki negara untuk menyelamatkan pasarnya.

Beberapa makna kemudian bisa diambil, yaitu: revolusi agrikultural dan industri menitik beratkan penemuan teknologi terbaru sebagai pemicu dan penggerak roda ekonomi. Relasi ekonomi yang muncul adalah sama yaitu pemilik aset (tanah & alat industri) akan memegang kendali ekonomi, sedangkan yang tidak mempunyai aset akan dikendalikan oleh si pemilik aset. Tuan tanah dan pemilik modal merupakan subyek pengendali ekonomi yang tentu saja masih berada dalam pengawasan otoritas politik seperti kerajaan atau negara, sedangkan buruh tani dan industri sebagai objek yang terkendali dalam sistem ekonomi. Fokus utamanya adalah bagaimana aset yang muncul dari perubahan teknologi menjadi alat penggerak ekonomi yang utama dalam skala global. Sehingga, salah satu penggerak globalisasi tentu saja merupakan hasil dari perpaduan antara revolusi teknologi dengan ekonomi, atau dengan kata lain semakin tinggi tingkatan teknologi akan semakin tinggi pula intensitas ekonomi, serta akan mempercepat roda globalisasi. Mereka yang hidup di kedua era tersebut kemudian diberi label masyarakat agraris dan industrialis.

***

Melalui proses bernalar seperti di atas, maka penulis akan membawa tulisan ini pada globalisasi ekonomi ketiga. Telah diutarakan di atas bahwa penemuan Silicon Chip atau Microchip mengawali revolusi Teknologi Informasi (TI). Penemuan internet dalam TI membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia. Manusia melalui TI dapat mengetahui banyak hal dengan hanya menekan beberapa tombol dari laptop atau perangkat lainnya. Banyak hal yang dilakukan oleh internet terhadap manusia. Manusia kemudian mendapatkan kemudahan yang luar biasa akibat akses jaringan yang sangat cepat. Bahkan materi yang terdapat di dalam tulisan ini bisa muncul dan dibaca oleh dengan bantuan internet. Frank Webster (2002) telah mengutarakan bahwa:

… begun to talk about ‘information’ as a distinguishing feature of the modern world. We are told that we are entering an information age, that a new ‘mode of information’ predominates, that ours is now an ‘e-society’, that we must come to terms with a ‘weightless economy’ driven by information, that we have moved into a ‘global information economy’.

Penulis menilai bahwa kemudahan yang diberikan oleh TI sungguh berbeda dengan kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi pertanian dan industri. Masyarakat yang terbina dari adanya revolusi TI kemudian dinamakan sebagai masyarakat informasi. Informasi bisa didefinisikan atau diklasifikasikan menurut banyak hal. Informasi bisa berupa apa saja. Beberapa terms yang kemudian menjadi hangat dalam perbincangan di beberapa kalangan penstudi globalisasi dan masyarakat informasi adalah information economy, information occupations, knowledge society, dan cultural information. Duff (2002) menambahkan bahwa:

Very many commentators have gone further to identify as ‘information societies’ the United States, Britain, Japan, Germany and other nations with a similar way of life. Politicians, business leaders and policy makers have taken the information society idea to their hearts, with the European Union urging the rapid adjustment to a ‘global information society’, thereby following in the tracks of Japan which embraced the concept of information society in the early 1970s.

Duff dalam ungkapannya di atas mengambil sikap bahwa informasi mampu membentuk suatu masyarakat dengan pola yang sama. Di negara-negara maju, seperti Amerika Serikat (AS), Inggris, Jepang, Jerman, dan lain sebagainya, memiliki suatu model gaya hidup kurang lebih sama. Hal yang kurang lebih sama itu tidaklah mungkin terjadi tanpa satu pengetahuan yang kurang lebih sama. Pengetahuan itu merupakan informasi yang terdistribusi secara lintas negara dengan bantuan TI. Dengan begitu, masyarakat informasi global bisa saling tukar-menukar informasi. Melalui argumen Webster dan Duff di atas, penulis mengambil posisi bahwa revolusi TI membawa dampak yang besar terhadap pola-pola ekonomi, selayaknya beberapa penemuan teknologi sebelumnya yang memberikan perubahan pula dalam pola ekonomi global dan kehidupan masyarakat global pada umumnya. Dengan kata lain, revolusi TI telah menghantarkan manusia ke era dentuman revolusi yang baru sesudah agraris dan industrialis, yaitu revolusi informasi.

***
Black dan Muddiman (2007) bertukas bahwa setidaknya ada beberapa hal yang bisa dilihat secara kritis dari adanya revolusi informasi. Beliau berdua melihat bahwa masyarakat yang terbentuk dari revolusi informasi yaitu masyarakat informasi tentu memiliki kriteria khusus. Kriteria khusus tentu bisa dilihat dari apa hakikat masyarakat informasi itu. Salah satu hakikat mereka bisa dilacak dari sudut pandang revolusi informasinya. Revolusi informasi menyediakan label khusus pada mereka. Salah satu label yang melekat dalam masyarakat informasi adalah professional occupations atau bisa ditinjau dengan istilah liberated knowledge workers of the information society. Menurut beliau, para pekerja atau buruh dalam istilah ekonomi klasik selalu dituntut untuk menguasai beberapa skill. Skill kemudian menjadi aset penting bagi buruh dalam dunia pekerjaan. Semakin tinggi skill yang dimiliki oleh buruh tersebut maka akan semakin mudah ia mengerjakan tugas-tugasnya. Beliau mencontohkan bahwa para pekerja kantoran sekarang tidak perlu lagi melakukan pekerjaannya di kantor, melainkan bisa dimana saja, termasuk di rumah. Kemampuan seorang pekerja menguasai banyak kecakapan informasi termasuk teknologi informasi mampu membawanya kebidang kesejahteraan. Tetapi, beliau mengkritisinya bahwa kemajuan informasi justru menambah beban pekerja untuk melakukan pekerjaan multi-tasking dengan multi-skill. Artinya bahwa kelas pekerja tetaplah menjadi kelas pekerja yang selalu akan diperas kemampuan dan informasinya demi perkembangan kapitalisme. Sehingga buruh akan selalu melalui proses proletarianisation atau dengan kata lain buruh akan selalu menjadi the new proletar di setiap revolusi teknologi yang terjadi.
Proletar gaya baru dalam masyarakat informasi ini juga dideskripsikan oleh Scott Lash (2002). Beliau bertukas bahwa buruh yang tergabung dalam masyarakat informasi mengalami pergeseran dalam tugas-tugas mereka. Mereka kini melakukan proses informasi ketimbang proses material. Buruh cerdas kemudian diminta untuk menciptakan gagasan atau ide yang cemerlang demi meningkatkan nilai produk kapitalis di pasar. Dalam menciptakan gagasan itu, buruh profesional tidak menggunakan operasi praktis, tetapi menggunakan mesin informasi khusus. Mereka selalu diminta untuk menuntaskan produk informasi yang berguna bagi perusahaan. Praktik diskursif pengetahuan kemudian menjadi makanan sehari-hari bagi para buruh profesional. Mereka para buruh profesional juga telah mentransformasikan diri mereka ke bentuk reflexive accumulation ketimbang fordist accumulation. Mengapa begitu? Hal itu dikarenakan mereka mampu menggerakkan keinginan pasar ketimbang mereka yang disetir oleh keinginan pasar. Para buruh profesional kini juga memiliki banyak informasi yang mahal harganya. Sehingga bisa dikatakan bahwa era revolusi informasi saat ini malah akan semakin mempercepat roda perekonomian kapitalisme. Dengan kata lain sebagai kesimpulan dan penutup lembaran kali ini, penulis beranggapan bahwa revolusi informasi melahirkan masyarakat informasi yang tentu saja memberikan pemahaman penting tentang pentinganya informasi sebagai komoditas paling berharga ketimbang alat produksi itu sendiri. Artinya bahwa informasi kini berada pada tingkatan komoditas yang tertinggi ketimbang produk dan alat yang berada di sektor industri dan agrikultur.

--- The End ---

Black, A., Muddiman., Plant, H. (2007). The Early Information Society Information Management in Britain before the Computer. Hampshire: Ashgate.
Bose, A. (1986). Information resources management: a glossary of terms, dalam Encyclopedia of Library and Information Science, Vol. 41. New York: Marcel Dekker. Hal: 92-161.
Duff, Alistair S. (2000). Information Society Studies. London: Routledge.
Lash, Scott. (2002). Critique of information. London: Sage.
Skousen, Mark. (2007). The big three in economics : Adam Smith, Karl Marx, and John Maynard Keynes. New York: M.E.Sharpe.
Webster, Frank. (2002). Theories of the information society. London: Routledge.