(Salah satu ungkapan di media massa ‘the Britain’s Mass-Observation Archive, University of Sussex’ dalam topik ‘work’ pada tahun 1983).
From an industrial society we have transformed into an information society … the information society has arrived.
(Bose, 1986: 92).
Dari situlah kemudian, tahap agrikultural muncul pada tahap globalisasi ekonomi pertama. Rasionalisasinya, proses penaklukkan beberapa wilayah di dunia bisa diklasifikasikan sebagai bentuk globalisasi mini dan pemanfaatan tanah jajahan untuk kemakmuran kerajaannya yang merupakan bentuk agenda ekonomi. Pelaku dalam kegiatan pemanfaatan tanah jajahan tersebut tentu saja adalah kelas pekerja / petani yang dibayar oleh tuan tanah untuk menggarap lahan yang tersedia. Modal utama yang dimiliki oleh tuan tanah tersebut adalah tanah itu sendiri. Tanah menjadi aset komoditas yang mewah pada kala itu. Sehingga jelas bahwa sistem agrikultural (faktor yang berorientasi pada aspek tanah jajahan yang dimanfaatkan secara ekonomi pula) menjadi pemicu geliat globalisasi ekonomi utama yang timbul dari kegiatan pelebaran pengaruh dan kekuasaan oleh kerajaan-kerajaan pada masa sebelum mesin modern ditemukan. Manusia kemudian berlomba-lomba untuk memperluas kepemilikan tanahnya hingga harus mencaplok daerah di luar batas teritori kerajaannya demi menguasai roda ekonomi terbaik pada kala itu (agrikultural). Sebagai tambahan, pemicu paling mendasar pada kala itu adalah penemuan teknologi pertanian sederhana dan pemanfaatan hewan ternak yang semula liar dan tidak jinak, sekaligus kita juga bisa mengklasifikasikannya sebagai bentuk revolusi pertanian / agrikultural yang menandakan perubahan pola hidup dan ekonomi dari nomaden ke menetap.
***
Telah dipaparkan sebelumnya di atas bahwa revolusi teknologi tertentu akan membawa pada revolusi ekonomi tertentu pula. Revolusi teknologi pertanian sederhana telah membawa manusia pada revolusi ekonomi agrikultural. Mode agrikultural tersebut menjadi roda ekonomi utama pada era sebelum Dark Age. Setelah itu, terdapat revolusi industri yang kemudian membawa manusia pada revolusi ekonomi selanjutnya. Mark Skousen (2007) mencatat bahwa Dr. Adam Smith melalui buku monumentalnya yaitu An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations telah mendeklarasikan revolusi ekonomi kedua, yaitu ekonomi liberal / kapitalisme. Berbeda halnya dengan revolusi agrikultural yang menitik beratkan pada tanah sebagai aset utama dan paling berharga. Dalam revolusi industri, kepemilikan alat produksi kemudian menggeser arti penting tanah sebagai aset yang paling berharga. Di dalam revolusi industri ini, manusia kemudian berfokus pada pengembangan produk-produk manufaktur pada skala masif. Beberapa term yang kemudian muncul sebagai riak dalam revolusi industri tersebut adalah mass production dan under consumption. Akibatnya produsen sulit menjual di daerahnya sendiri karena pasar sudah terlalu jenuh. Oleh karena itu ia menjualnya ke beberapa belahan dunia lainnya, yang kemudian menandakan bentuk globalisasi ekonomi yang kedua (perdagangan lintas negara).
***
***
Proletar gaya baru dalam masyarakat informasi ini juga dideskripsikan oleh Scott Lash (2002). Beliau bertukas bahwa buruh yang tergabung dalam masyarakat informasi mengalami pergeseran dalam tugas-tugas mereka. Mereka kini melakukan proses informasi ketimbang proses material. Buruh cerdas kemudian diminta untuk menciptakan gagasan atau ide yang cemerlang demi meningkatkan nilai produk kapitalis di pasar. Dalam menciptakan gagasan itu, buruh profesional tidak menggunakan operasi praktis, tetapi menggunakan mesin informasi khusus. Mereka selalu diminta untuk menuntaskan produk informasi yang berguna bagi perusahaan. Praktik diskursif pengetahuan kemudian menjadi makanan sehari-hari bagi para buruh profesional. Mereka para buruh profesional juga telah mentransformasikan diri mereka ke bentuk reflexive accumulation ketimbang fordist accumulation. Mengapa begitu? Hal itu dikarenakan mereka mampu menggerakkan keinginan pasar ketimbang mereka yang disetir oleh keinginan pasar. Para buruh profesional kini juga memiliki banyak informasi yang mahal harganya. Sehingga bisa dikatakan bahwa era revolusi informasi saat ini malah akan semakin mempercepat roda perekonomian kapitalisme. Dengan kata lain sebagai kesimpulan dan penutup lembaran kali ini, penulis beranggapan bahwa revolusi informasi melahirkan masyarakat informasi yang tentu saja memberikan pemahaman penting tentang pentinganya informasi sebagai komoditas paling berharga ketimbang alat produksi itu sendiri. Artinya bahwa informasi kini berada pada tingkatan komoditas yang tertinggi ketimbang produk dan alat yang berada di sektor industri dan agrikultur.
Bose, A. (1986). Information resources management: a glossary of terms, dalam Encyclopedia of Library and Information Science, Vol. 41. New York: Marcel Dekker. Hal: 92-161.
Duff, Alistair S. (2000). Information Society Studies. London: Routledge.
Lash, Scott. (2002). Critique of information. London: Sage.
Skousen, Mark. (2007). The big three in economics : Adam Smith, Karl Marx, and John Maynard Keynes. New York: M.E.Sharpe.
Webster, Frank. (2002). Theories of the information society. London: Routledge.

