Oleh: Muhammad Nizar
Dunia keuangan sedang menghadapi serangan krisis yang bersumber dari kriris kredit macet perumahan (subprime mortgage) di negara adidaya AS. Subprime Mortgage ini mengakibatkan harga rumah jatuh sebesar 90%. Uang kepemilikan rumah menyusut drastis dan nilai rumah itu berkurang begitu saja. Hanya dalam 1 tahun saja yaitu tahun 2007-2008, dampak dari krisis kredit perumahan yang macet tersebut sangat besar sebagai buah masam dari akumulasi. Proses akumulasi tersebut bisa berjalan dengan lancar tanpa hambatan karena pemerintah AS rupanya tidak mampu menyelesaikan dengan seksama. Sehingga pemerintahan Republik terutama George W. Bush dituding sebagai penyebab dari krisis keuangan tersebut. Bush adalah presiden dengan tendensi berperang yang tinggi sehingga balance of payment AS dinilai sebagian pengamat mengalami defisit. Lalu karena defisitnya hal tersebut maka juga akan mengurangi kemampuan negara dalam mengintervensi pasar. Hasilnya adalah terlambatnya tindakan antisipasi negara AS dalam upaya penyelamatan krisis keuangan. Seharusnya sejak awal, negara harus terlibat penuh sebagai pengontrol dan pencegah krisis, tidak seperti sekarang ini yang hanya ketika krisis negara baru mengintervensi. Ketika kapitalis merayakan keuntungannya, mereka menolak intervensi negara, tetapi ketika kapitalis menangis cengeng karena modal nya mengalami capital loss, mereka mengemis kepada negara untuk melakukan intervensi. Sehingga di kemudian hari, efek imbasnya terasa hingga sektor grassroots yang sungguh dapat merugikan masyarakat secara luas, yang notabene tidak ikut di stadion finansial.
Kebijakan bail out pemerintah AS sebesar $ 700 milyar tersebut diupayakan untuk mengembalikan kepercayaan pasar. Dengan bantuan tersebut diharapkan agar bursa wall street tidak sampai terjun bebas sebagai akibat dari capital outflow yang ditujukan untuk mendapatkan uang cash yang notabene sulit didapatkan karena kencangnya likuiditas bagi para pengusaha yang membutuhkan kredit. Tetapi pasar beranggapan lain (pesimis) karena market capitalization AS yang besar tersebut hanya akan di-bail out sebesar $ 700 milyar. Lalu tidak banyak pula perusahaan lembaga keuangan AS yang dapat diselamatkan, salah satunya adalah Lehman Brothers. Hanya AIG sebagai perusahaan asuransi terbesar di AS dan Fredie Mac Fennie Mae sebagai lembaga keuangan terbesar AS saja yang salah satu dari beberapa perusahaan keuangan AS yang dapat diselamatkan karena bernilai strategis. Selanjutnya yang ditakutkan adalah imbasnya di Indonesia yang sekarang telah dirasakan di Bursa Efek Indonesia (BEI). IHSG telah terjun bebas di pusat tertinggi 2.800 menuju jurang 1.380an. Sebagian analis mengatakan bahwa support 1.320 menjadi titik alarm bagi investor dalam bermain di BEI. Bahkan BEI telah melakukan suspend karena beberapa sahamnya mengalami auto reject atau terjadi penurunan lebih dari 30%. Suspend ini merupakan ke beberapa kalinya sejak terjadi pemboman di Marriot dan kerusuhan Jakarta beberapa waktu lalu.
Kepemilikan portofolio IHSG sebesar 60%-nya dimiliki oleh asing, sehingga jelas menurut logika ekonomi, yaitu jika terjadi imbasnya di luar negeri maka jelas akan berimplikasi kepada kita sebagai negara dengan emerging market-nya. Hal ini yang menjadikan kritik bagi pemerintahan SBY-JK bahwa pertumbuhan ekonomi sebesar 6,3%-an itu sebenarnya 60%-nya adalah pertumbuhan asing yang selalu dibawa keluar, sehingga tiap periode terjadi financial outflow yang justru tidak menguntungkan negara RI. Memang kita akui adalah terjadi capital inflow tetapi hanya akan memberikan keuntungan sementara bagi balance of payment RI. Artinya bahwa jika investor asing untung maka kita hanya kebagian tetesan saja (trickle down effect) begitu juga jika investor asing mengalami kerugian maka dampaknya sungguh besar pula karena terjadi capital outflow besar-besaran untuk menghindari capital loss lebih dalam dan mendapatkan uang cash secara cepat.
Pemerintah RI telah berencana untuk melakukan buy back beberapa saham BUMN untuk mengurangi dampak kehancuran lebih dalam dan membantu likuiditas pada sektor tertentu. Hal ini dilakukan atas dasar mencegah kebangkrutan BUMN karena tersendatnya modal akibat arus keluar yang semakin deras. Pelarian modal hanya akan merugikan emiten di BEI termasuk beberapa BUMN di dalamnya karena berimplikasi pada penurunan nilai IHSG. Terjadi beberapa model akibat krisis finansial yaitu kejatuhan nilai aset, naiknya suku bunga, ketatnya likuiditas yang bila terjadi dalam skala luas akan berimbas negatif pada sektor moneter. Bila terjadi krisis pada sektor moneter maka akan berimbas pula pada sektor perbankan karena terkait dengan masalah nilai mata uang Rupiah dan suku bunga BI. Melalui 2 masalah yang terjadi pada sektor perbankan tersebut maka akan berdampak langsung ke masyarakat, karena perbankan merupakan konduktor dari sektor finansial, moneter, dan riil melalui berbagai macam instrumen keuangan yang ada. Pemerintah harus berupaya dalam menjaga kestabilan nilai Rupiah melalui kebijakan “cinta rupiah” dan menguatkan sektor fundamental ekonomi melalui penerbitan Surat Utang Negara yang sungguh dapat menggairahkan sektor riil. Sehingga dampak krisis finansial global dapat dicegah pengaruhnya ke sektor riil nasional. Bagaimanapun juga pemerintah harus berupaya lebih keras, biarkan saja bursa saham di regional dan internasional hancur dulu. Jangan rusak bursa dalam negeri karena akan menyebabkan kebangkrutan beberapa perusahaan domestik yang go public yang justru akan menambah pengangguran, degradasi kepercayaan moral market dan publikpun juga akan berkurang kepercayaanya pada pemerintah.
The End
Kebijakan bail out pemerintah AS sebesar $ 700 milyar tersebut diupayakan untuk mengembalikan kepercayaan pasar. Dengan bantuan tersebut diharapkan agar bursa wall street tidak sampai terjun bebas sebagai akibat dari capital outflow yang ditujukan untuk mendapatkan uang cash yang notabene sulit didapatkan karena kencangnya likuiditas bagi para pengusaha yang membutuhkan kredit. Tetapi pasar beranggapan lain (pesimis) karena market capitalization AS yang besar tersebut hanya akan di-bail out sebesar $ 700 milyar. Lalu tidak banyak pula perusahaan lembaga keuangan AS yang dapat diselamatkan, salah satunya adalah Lehman Brothers. Hanya AIG sebagai perusahaan asuransi terbesar di AS dan Fredie Mac Fennie Mae sebagai lembaga keuangan terbesar AS saja yang salah satu dari beberapa perusahaan keuangan AS yang dapat diselamatkan karena bernilai strategis. Selanjutnya yang ditakutkan adalah imbasnya di Indonesia yang sekarang telah dirasakan di Bursa Efek Indonesia (BEI). IHSG telah terjun bebas di pusat tertinggi 2.800 menuju jurang 1.380an. Sebagian analis mengatakan bahwa support 1.320 menjadi titik alarm bagi investor dalam bermain di BEI. Bahkan BEI telah melakukan suspend karena beberapa sahamnya mengalami auto reject atau terjadi penurunan lebih dari 30%. Suspend ini merupakan ke beberapa kalinya sejak terjadi pemboman di Marriot dan kerusuhan Jakarta beberapa waktu lalu.
Kepemilikan portofolio IHSG sebesar 60%-nya dimiliki oleh asing, sehingga jelas menurut logika ekonomi, yaitu jika terjadi imbasnya di luar negeri maka jelas akan berimplikasi kepada kita sebagai negara dengan emerging market-nya. Hal ini yang menjadikan kritik bagi pemerintahan SBY-JK bahwa pertumbuhan ekonomi sebesar 6,3%-an itu sebenarnya 60%-nya adalah pertumbuhan asing yang selalu dibawa keluar, sehingga tiap periode terjadi financial outflow yang justru tidak menguntungkan negara RI. Memang kita akui adalah terjadi capital inflow tetapi hanya akan memberikan keuntungan sementara bagi balance of payment RI. Artinya bahwa jika investor asing untung maka kita hanya kebagian tetesan saja (trickle down effect) begitu juga jika investor asing mengalami kerugian maka dampaknya sungguh besar pula karena terjadi capital outflow besar-besaran untuk menghindari capital loss lebih dalam dan mendapatkan uang cash secara cepat.
Pemerintah RI telah berencana untuk melakukan buy back beberapa saham BUMN untuk mengurangi dampak kehancuran lebih dalam dan membantu likuiditas pada sektor tertentu. Hal ini dilakukan atas dasar mencegah kebangkrutan BUMN karena tersendatnya modal akibat arus keluar yang semakin deras. Pelarian modal hanya akan merugikan emiten di BEI termasuk beberapa BUMN di dalamnya karena berimplikasi pada penurunan nilai IHSG. Terjadi beberapa model akibat krisis finansial yaitu kejatuhan nilai aset, naiknya suku bunga, ketatnya likuiditas yang bila terjadi dalam skala luas akan berimbas negatif pada sektor moneter. Bila terjadi krisis pada sektor moneter maka akan berimbas pula pada sektor perbankan karena terkait dengan masalah nilai mata uang Rupiah dan suku bunga BI. Melalui 2 masalah yang terjadi pada sektor perbankan tersebut maka akan berdampak langsung ke masyarakat, karena perbankan merupakan konduktor dari sektor finansial, moneter, dan riil melalui berbagai macam instrumen keuangan yang ada. Pemerintah harus berupaya dalam menjaga kestabilan nilai Rupiah melalui kebijakan “cinta rupiah” dan menguatkan sektor fundamental ekonomi melalui penerbitan Surat Utang Negara yang sungguh dapat menggairahkan sektor riil. Sehingga dampak krisis finansial global dapat dicegah pengaruhnya ke sektor riil nasional. Bagaimanapun juga pemerintah harus berupaya lebih keras, biarkan saja bursa saham di regional dan internasional hancur dulu. Jangan rusak bursa dalam negeri karena akan menyebabkan kebangkrutan beberapa perusahaan domestik yang go public yang justru akan menambah pengangguran, degradasi kepercayaan moral market dan publikpun juga akan berkurang kepercayaanya pada pemerintah.
The End


Tidak ada komentar:
Posting Komentar